Wednesday, November 21, 2018

HARTA YANG TERPENDAM


“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu” (Matius 13:44)

Harta yang terpendam merupakan suatu perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Yaitu seorang yang menemukan harta yang terpendam di suatu ladang. Kemudian ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Perumpamaan ini menjelaskan bahwa harta yang terpendam merupakan suatu keselamatan dengan segala kekayaan rohaninya yang jauh lebih berharga dibandingkan dengan segala harta benda yang nampak di dalam dunia. Saat seorang menyadari akan keselamatan dan kekayaan rohani yang sangat berharga ini, mereka rela menjual segala harta benda yang nampak untuk membeli kekayaan rohani yang jauh lebih berharga. Menjual segala miliknya artinya rela menjual atau berkorban atas segala sesuatu yang telah dimiliki, untuk dapat menikmati kekayaan rohani yang jauh lebih berharga.
Sadarilah bahwa kekayaan rohani adalah harta terpendam yang tidak nampak, yang jauh lebih berharga daripada harta kekayaan dunia. Relakanlah untuk mengorbankan segala milik kekayaan dunia untuk dapat meraup kekayaan rohani yang jauh lebih berharga.
Sering kita berpikir bahwa sudah tidak ada lagi pintu berkat yang dapat diharapkan. Seakan semua pintu telah tertutup. Kadang pula kita berpikir bahwa kebutuhan terlalu besar buat kita. Seakan tidak mungkin kita sanggup memenuhinya. Kita merasa tidak ada seorangpun yang mau menolong kita. Seakan kita sendiri dan hati kitapun kian ciut, putus harapan dan putus asa.
Namun apakah kita mengerti dan menyadarinya? Bahwa masih ada harta benda yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi yang disediakan Allah bagi kita. Harta yang sanggup mencukupkan seluruh kebutuhan bahkan berkelimpahan serta yang tidak akan pernah habis hingga anak cucu kita. 

Doa : Tuhan Yesus, ajar setiap kami untuk selalu hidup benar di hadapan-Mu agar suatu kelak kami mendapat mahkota yang dari Engkau. Amin.

YESAYA 40:12-31

Pembuangan Yehuda ke Babel bertujuan untuk memurnikan dan mendidik Yehuda. Allah mendisiplin umat-Nya guna mempersiapkan umat-Nya menjadi bangsa yang terhindar dari penyembahan berhala. Namun situasi tersebut menimbulkan keraguan Yehuda akan Allah. Oleh sebab itu, Yesaya menyatakan dan menyuarakan bahwa Allah YAHWEH adalah Allah yang penuh hikmat, kebesaran, keagungan, dan kuasa kreatif-Nya (ay. 12-14). 

Hikmat Allah tidak bisa dibandingkan dengan hikmat manusia karena manusia adalah bagian dari ciptaan-Nya (ay. 12-14). Manusia tidak bisa mengajari Allah. Sebaliknya, manusia bergantung sepenuhnya kepada Wahyu Allah untuk mengerti diri-Nya. Kebesaran Allah tidak bisa dibandingkan dengan luasnya bumi dan isinya ataupun dengan keperkasaan bangsa-bangsa (ay. 15-17). Sebagai perbandingan luas hutan Libanon tidak mampu mencukupi kebutuhan kayu bakar dan binatang untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran bagi Allah. Allah tidak dapat dibandingkan dengan hal-hal di atas. Kebenaran-kebenaran yang terungkap bertujuan untuk mengilhami umat-Nya untuk percaya kepada-Nya, di mana Allah sanggup melepaskan mereka dari penjajahan Babel dan menetapkan kerajaan-Nya untuk selama-lamanya.
Kelepasan dari pembuangan adalah bukti nyata bahwa sesungguhnya Allah Israel jauh lebih berkuasa dari-pada ilah-ilah bangsa kafir yang tak lebih daripada patung tuangan atau pahatan buatan manusia (ay. 18-20). Allah tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Dia adalah Allah, Pencipta langit dan bumi. Benda-benda di langit pun adalah ciptaan-Nya (ay. 26). Segala sesuatu yang ada di alam ini adalah ciptaan-Nya, termasuk bangsa-bangsa besar seperti Babel. Bangsa Israel boleh merasa kecil dengan negara adikuasa seperti Babel, tetapi di mata Allah, Babel tidak lebih daripada setetes air dalam timba atau sebutir debu pada neraca (ay. 15). Dalam sekejap, apabila Allah menyatakan penghakiman-Nya, para penguasa dunia ini pasti akan binasa (ay. 23-24). Segenap alam semesta, baik bumi maupun seluruh jagad raya wajib tunduk pada kekuasaan-Nya (ay. 25-26).
Pembuangan tidak membuktikan bahwa Allah tak berdaya. Tapi justru membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang adil, yang membalaskan dosa dengan penghukuman. Allah tetap Allah yang kekal, yang kuasa-Nya tidak berubah, dan pengertian-Nya jauh melampaui akal manusia. Alkitab mengatakan: tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (ay. 31). Oleh sebab itu, janganlah meragukan kuasa dan keagungan Allah, sebab Allah tidak dapat dibandingkan oleh siapapun. Dialah Allah yang bertindak dengan hikmat dan kebijaksanaan. 

BERAT

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13)

Sesuai dengan kodrat, kita diciptakan sebagai manusia yang dipersiapkan dari dalam kandungan ibu kita sebagai jabang bayi, terlahir sebagai bayi dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Dalam tumbuh kembangnya menjadi balita, anak, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya kembali ke tanah sebagai jasad. Tidak ada yang tahu kapan kita tercipta karena itu adalah tangan Tuhan yang menenun dalam rahim sang ibu.
Dalam perjalanannya, hidup ini tidak sama bagi satu dengan lainnya. Ada yang lahir normal, ada yang cacat, ada yang kaya, ada yang berkecukupan, ada yang miskin, ada yang berkulit putih, kuning, sawo matang atau hitam, ada yang berambut lurus, dan ada yang berambut keriting.
Saat mengadakan kunjungan ke rumah sakit atau secara pribadi ke rumah, sering kita jumpai orang yang menderita sakit yang kadang berat atau mengalami kecelakaan hingga kondisinya parah. Banyak orang menghadapi kehidupan dengan problematika yang beragam. Pekerjaan yang jadi area ekonomi kehidupan menjadi perjuangan hidup yang dilalui setiap orang. Masalah keuangan, keluarga, pekerjaan, pergaulan, dan lain sebagainya bisa menimpa kita selagi kita ada di dunia yang fana ini.
Saking beratnya apa yang kita hadapi kadang membuat kita tidak mampu menghadapinya. Kita berteriak tapi seakan tidak ada solusi. Kita berdoa tapi seakan Tuhan tidak menjawab. Tawaran di luar kebenaran Tuhan sering menggoda orang yang lemah iman dan ingin segera berakhir dengan apa yang mungkin bertubi-tubi menghampiri hidupnya.
Apakah kita sedang dalam pergumulan berat? Datanglah pada Tuhan mencari jawaban yang tidak akan pernah salah sekalipun apa yang Tuhan akan lakukan tetap menjadi misteri. Bertekun dalam waktu-Nya tanpa harus selalu bertanya kenapa dan kapan adalah yang Dia inginkan, maka ketenangan batin tersedia bagi kita.

Doa: Tuhan Yesus, mampukan aku untuk terus bertekun mencari Engkau walaupun pergumulan yang aku hadapi terasa berat. Aku percaya Engkau pasti menolongku dan memberikan jawaban. Amin.

Tuesday, November 20, 2018

MEMPERCEPAT KEDATANGAN TUHAN

      Selama bertahun-tahun, saya tidak mengerti apa yang dimaksud dalam tulisan Petrus di 2 Petrus 3:11-14. Bertahun-tahun sebagai seorang pelajar Alkitab, bahkan sebagai seorang Dosen Sekolah Tinggi Teologi, saya tidak tahu maksud pernyataan Firman Tuhan dalam 2 Petrus 3:11-14. Ini benar-benar sulit dipahami. Ditulis dalam ayat-ayat itu bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan hari Allah hari Tuhan maksudnya. Hari di mana Allah mengakhiri sejarah dunia. Itu juga berarti berakhirnya petualangan Iblis atau Lusifer beserta pengikutnya. Mereka dibuang kedalam kegelapan abadi bersama dengan orang-orang yang tidak taat, orang-orang yang memberontak kepada Allah. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi, dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Inilah yang dikatakan oleh Wahyu bahwa, bumi akan menjadi lautan api. Jadi sebenarnya neraka itu adalah bumi ini, yaitu ketika unsur-unsur dunia akan hancur dalam nyala api.

     Hari Allah atau hari Tuhan adalah hari yang paling mengerikan bagi Iblis dan para malaikat yang memberontak. Itulah sebabnya mereka pasti berusaha untuk menghindarkan atau paling tidak berusaha memperlambat pelaksanaannya. Sebab itu berarti pelaksanaan eksekusi hukuman atas mereka. Dengan cara bagaimanakah kuasa kegelapan ini menghambat hari Tuhan? Dengan cara mencegah orang percaya memiliki kehidupan yang saleh, mencegah orang percaya memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Itulah sebabnya dalam 2Petrus 3:11-14, Firman Tuhan mengatakan : Betapa suci dan salehnya kamu harus hidup, yaitu kamu yang mempercepat kedatangan hari Tuhan. Jadi orang percaya bisa mempercepat kedatangan hari Tuhan kalau mereka memiliki kesucian dan kesalehan seperti yang dikehendaki oleh Allah; yaitu kesucian, kesalehan seperti Yesus, yang berarti juga menjadi corpus delicti. Menjadi corpus delicti ikut menjadi saksi atau bukti bahwa Lusifer melakukan kesalahan. Mempercepat kedatangan Tuhan dalam bahasa aslinya speudo, kata ini juga bisa berarti to hast atau to make hast, sulit dimengerti tapi kita sekarang tahu, bahwa ternyata orang percaya memiliki tanggung jawab itu. Tanggung jawab untuk bisa mempercepat kedatangan Tuhan. Kalau masih mau mempersoalkan, ah masa begitu pak? ya, Firman Tuhan mengatakan: Jika jumlah bilangan orang yang tidak menyayangkan nyawa itu cukup, maka baru akan diakhiri dunia ini. Jumlah bilangan orang yang tidak menyayangkan nyawa artinya orang yang menjadi seperti Yesus yang rela kehilangan nyawa demi keselamatan jiwa orang lain. Jadi kalau jumlah bilangan orang yang tidak menyayangkan nyawa, yaitu mereka yang dibunuh karena imannya kepada Tuhan Yesus, atau orang-orang yang mau memadamkan atau menghapuskan keinginan-keinginan dunia seperti Tuhan Yesus mengosongkan diri; mereka memiliki ketaatan kepada Allah Bapa dan kepatuhan kepada Allah Bapa seperti Tuhan Yesus, jumlah bilangan orang-orang seperti itu cukup; maka Tuhan Yesus akan datang dan mengakhiri sejarah dunia.

     Pembahasan mengenai corpus delicti ini sebenarnya sangat luas, tidak cukup dengan penjelasan beberapa menit. Dalam salah satu buku yang saya tulis mengenai corpus delicti, saya menjelaskan panjang lebar hal ini dengan landasan yang benar-benar Alkitabiah supaya saudara-saudara dapat mengerti rahasia kebenaran Firman Tuhan. Implikasi dari penjelasan atau ajaran mengenai corpus delicti adalah tidak bisa tidak kita harus bertumbuh menjadi sempurna seperti Yesus. Kita tidak bisa menghindarkan diri dari panggilan untuk kehilangan nyawa seperti Tuhan Yesus. Kita tidak bisa menghindarkan diri kita dari panggilan untuk mengosongkan diri seperti Yesus. Hal ini, apa yang saya jelaskan ini dapat ditegaskan atau ditegaskan dalam Wahyu 11:12 bahwa; kekalahan Lusifer dan para malaikat-malaikatnya itu hanya oleh darah Yesus dan perkataan kesaksian mereka yang tidak mengasihi nyawa mereka. Jelas darah Yesus itu penderitaan Yesus. Kesaksian mereka yang tidak mengasihi nyawa, artinya orang-orang yang hidupnya benar-benar rela kehilangan nyawa, kesenangan, kebahagiaan hidup di bumi ini, orang yang mengosongkan diri, orang-orang yang benar-benar telah mengalami perjuangan, menderita bersama Tuhan Yesus dan mencapai kesempurnaan seperti Tuhan Yesus. Inilah yang dapat mengakhiri sejarah dunia. Orang-orang yang mempercepat kedatangan Tuhan Yesus atau mempercepat hari Tuhan.

    Saudaraku, jangan takut kehilangan nyawa, karena siapa yang kehilangan nyawa akan beroleh nyawa. Kiranya kebenaran ini memberkati kita sekalian

MEMINDAHKAN HATI KE SURGA


“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Lukas 12:34)

      Cobalah perhatikan jika seseorang baru saja membeli suatu barang atau benda yang sudah lama ia idam-idamkan. Dipandangi, dirawat, dijaga dan kalau perlu dibawa kemana-mana. Lihat pula anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang baru. Di meja makan ia bawa, bahkan jika perlu, ia simpan di bawah banta tidurnya. Hatinya melekat, untuk itulah ia menaruhnya dekat-dekat. Secara tidak sadar kita akan memperlakukan dengan cara yang paling istimewa terhadap sebuah benda atau hal yang paling kita anggap istimewa.

    Ada Bapak-Bapak yang bila bangun pagi hari, ia segera bergegas menyiapkan pakan burung, menjumpai burung-burung kesayangannya. Memandikan mereka dan bahkan berkicau bersama dengan mereka. Beberapa bahkan rela menyisihkan ruangan khusus dalam rumahnya untuk sekumpulan burung-burung istimewa yang dimilikinya. Ia lupa jika anak-anaknya harus diantar ke sekolah ataupun harus segera bergegas ke kantor. Harta berharga baginya adalah si burung love bird.
Ada pula ibu-ibu yang baginya, acara ngumpul sahabat-sahabat ngerumpi-nya adalah hal teristimewa. Itu adalah sebuah kegiatan bagi para ibu yang suaminya terlampau kaya dan tempat yang cocok untuk memamerkan tas-tas Hermes yang baru saja keluar. Mereka lupa akan anak-anaknya yang jika pulang sekolah harus makan dari Go-food karena Mama mereka masih akan lama ngumpul.

    Anak-anak? Tentu saja mereka memiliki hal istimewa yang bisa saja jauh lebih penting dari orang tua mereka yang asal-asalan mengasuh anak dan dengan senang hati akan mereka perjuangkan bahkan rela keluar dari rumah. Kita seringkali lupa, bahwa yang kekal adalah yang paling berharga. Yang kita kasihi-pun harus sampai kepada kekekalan bersama Bapa.

Doa: Tuhan Yesus, aku rindu semua keluargaku hanya melihat pada perkara-perkara yang kekal dan bukan pada perkara duniawi. Amin.

YESAYA 41:8-20

Pendahuluan
Tuhan telah memilih Israel menjadi saluran berkat untuk melaksanakan janji penebusan yang telah dilakukan dengan leluhur bangsa Israel. Pemilihan ini menjadi alasan Israel tidak perlu takut. Israel disebut sebagai hamba Tuhan dan ini menyatakan hubungan yang didasari kasih dan kepercayaan.

Pembahasan
      Ayat 1-7 menjelaskan bahwa Allah adalah pribadi yang akan menuntun, menyertai dan memberikan kekuatan ketika orang percaya menghadapi masalah-masalah. Berhala-berhala sama sekali tidak berguna dan mengandalkan sesama merupakan hal yang sia-sia. Allah tidak ingin umat-Nya bergantung kepada berhala.

    Ayat 8-10 menjelaskan Allah menekankan umat-Nya agar menyadari bahwa mereka adalah umat pilihan. Umat Israel sebagai umat pilihan diperintahkan Allah agar tidak takut dan bimbang karena Allah menyertai mereka. Penyertaan Allah tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Bahkan ada alasan lain agar Israel tidak takut dan tidak bimbang, yaitu Allah berjanji akan membuat malu musuh-musuh Israel (ayat 11-12). Selain Allah akan membuat musuh-musuh Israel merasa malu, Tuhan yang akan memegang tangan Israel (Allah sebagai pelindung Israel) dan menolong Israel (Allah sebagai penolong Israel), Israel sendiri digambarkan sebagai umat yang lemah, yaitu seperti cacing Yakub dan ulat Israel (ayat 13-14). Allah sebagai pribadi yang akan menguatkan Israel. Allah akan menguatkan Israel, sehingga Israel dijadikan seperti ‘papan pengirik yang tajam dan baru dengan gigi dua jajar’ dan akan mampu mengirik gunung dan menghancurkannya (ayat 14-15). Israel akan menghadapi situasi yang sulit, hal ini mengakibatkan umat Israel mengalami kesengsaraan. Namun, Tuhan akan membuat hal yang ajaib di luar apa yang mampu mereka pikirkan yaitu Tuhan akan membuat “mata-mata air membual di tengah-tengah daratan dan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering” (ayat 18). Tanaman-tanaman akan ditumbuhkan dan kemudian orang akan mengetahui bahwa Allah, adalah pribadi yang Mahakudus, yang menjadikan semua itu (ayat 19-20). Israel ditolong Tuhan dalam menghadapi kesulitan karena Allah yang menyertai dan menuntun.

Penerapan
      (1) Orang percaya harus hidup dalam penyerahan dan ketaatan total kepada Tuhan sebab Allah adalah pribadi yang dapat diandalkan; (2) Orang percaya harus meyakini bahwa Allah akan memberikan pertolongan tepat pada waktu-Nya, ketika umat-Nya mengalami kesulitan; (3) Orang percaya harus tetap setia kepada Allah, walaupun mengalami kesulitan sebab Allah berjanji memberikan pertolongan yang begitu ajaib.

UPAH KETEKUNAN

“Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya”
(Matius 10:42)

          Ada seorang ibu yang tekun berdoa untuk kelima anaknya, bertahun-tahun setiap pagi dia mendoakan anak-anaknya, memang secara kasat mata tidak ada hal yang luar biasa terjadi pada setiap anaknya. Tapi suatu saat salah satu dari anaknya menjadi hamba Tuhan dan dipakai Tuhan secara luar biasa. Mungkin dalam doanya, ibu tersebut meminta kepada Tuhan agar anak-anaknya sukses, tapi Tuhan menjawab dengan caranya sendiri. Ketika salah satu anak dari ibu ini menjadi hamba Tuhan, maka satu persatu anggota keluarga mereka dipulihkan dan mencari Tuhan. Tuhan memakai salah satu dari kelima anaknya untuk membawa keluarga mereka kepada Tuhan. Tuhan mengerjakan hal yang jauh lebih besar dari yang dapat ibu tersebut pikirkan sebelumnya. Itulah upah ketekunan dari doa.

         Sama seperti bumi yang kita tempati memiliki hukum alam yang pasti terjadi, sebagai contoh ketika petani menabur benih maka suatu saat ia akan menuai hasil taburannya, ketika manusia menebang hutan secara besar-besaran, maka terjadilah banjir di tempat tersebut. Begitu pula hal yang sama terjadi dalam dunia roh. Jika kita menang dalam alam roh, maka dalam alam nyata pun kita juga akan menang. Setiap manusia akan menerima upahnya masing-masing dalam kekekalan.

        Setiap tindakan kita selalu disertai dengan upah dari Tuhan. Entah itu kita akan menerimanya di bumi ataupun kelak di kehidupan yang akan datang. Upah yang akan diterima setiap orang tentu tidak akan sama. Karena penilaian nya tidak hanya dari tindakan tetapi juga dari motivasi hati yang menggerakkan tindakan tersebut. Oleh karena itu, segala hal yang manusia lakukan hanya Tuhanlah yang berhak menentukan upahnya. Tuhan sangat menghargai motivasi dan ketulusan hati setiap orang dalam mengikut Dia. (YT-05)

Doa: Tuhan Yesus, ajar setiap kami untuk selalu mengandalkan Engkau di dalam hidup ini agar senantiasa kami kuat menghadapi segala sesuatu di dunia ini. Amin.

YESAYA 41:21-29

Pendahuluan
Kitab Yesaya ini terkenal dengan nubuat tentang Mesias. Bagian ini bebicara tentang nubuat Mesias sebagai hamba Tuhan. Allah akan memberikan kemenangan bagi Israel atas bangsa-bangsa yang memusuhinya. Allah menentang bangsa-bangsa yang meramalkan masa depan bagi Israel. Allah yang berkuasa atas masa depan umat-Nya dan bangsa-bangsa lain. Allah tidak dapat dibandingkan dengan pribadi yang lain.

Pembahasan
Ayat 21, Allah mengerahkan bangsa-bangsa untuk menghadap pengadilan Allah. Allah memanggil berhala-berhala untuk menghadapi-Nya. Berhala-berhala itu tidak mampu menyatakan tentang masa depan Israel. Berhala-berhala tidak mampu memberitahukan masa depan bangsa-bangsa. Ayat ini juga menyatakan Israel hanya boleh menyembah Allah yang berkuasa atas masa depan Israel. Allah ingin agar Israel monotheisme.

Ayat 22-29, Pokok pembicaraan dalam bagian ini beralih pada bangsa-bangsa yang menyembah berhala. Tuhan menentang mereka yang menyembah berhala-berhala. Tuhan membuktikan kenyataan dari kuasa dari berhala-berhala yang tidak sebanding dengan kuasa Allah. Allah berkuasa menguji nubuat dan penggenapan. Umat Allah menuduh berhala-berhala palsu ini, tidak memberitahukan kehendak dan maksud Allah. Tuhan menyatakan maksud-Nya untuk menghormati nama Allah dan melaksanakan rencana-Nya. Berhala-berhala yang disembah orang kafir tidak dapat meramalkan masa depan.

Penerapan
(1) Orang percaya harus mempercayai Allah sebagai pengendali masa depan. Allah adalah pribadi yang tidak dibatasi waktu. Allah di luar dimensi waktu dan tidak dikuasai oleh waktu, sebab Allah adalah pencipta waktu; (2) Orang percaya hanya boleh menyembah Allah bukan kepada pribadi yang lain, karena pribadi yang lain tidak dapat disejajarkan dengan Allah; (3) Orang percaya tidak boleh mempercayai pribadi lain selain Allah; (4) Orang percaya harus mampu mengidentifikasi pribadi-pribadi lain yang dapat menjadi berhala (yang dapat menggeser pribadi Allah sebagai fokus hidup orang percaya); (5) Orang percaya harus berfokus pada Allah dan bukan pada pribadi yang lain, khususnya untuk berharap tentang harap tentang masa depan.; dan (6) Orang percaya harus menghindari ramalan masa depan dari pribadi yang lain, sebab hanya Allah yang berkuasa atas masa depan orang percaya. (TY-04)

YESAYA 42:1-9

Kitab Yesaya terkenal dengan empat nubuat tentang Mesias sebagai hamba Tuhan ( Yes. 42:1-9; 49:1-13; 50:4-11; 52:13-53:12). Nats hari ini adalah nubuat yang pertama.
Ayat 1 dimulai dengan kata “lihat.” Kata ini dalam bahasa Ibrani sama dengan kata “sesungguhnya” pada pasal 41:24, 29. Yesaya membandingkan sang hamba dengan berhala atau allah. Jika pada pasal 41:21-29 berhala dibandingkan dengan Allah, maka dalam nats ini sang hamba dibandingkan dengan berhala. Ini menyiratkan bahwa sang hamba bukanlah manusia biasa.
 

Tugas sang hamba (ayat 1-4) adalah menyatakan “hukum” kepada segala bangsa (ayat 1), tetapi dengan cara yang berbeda dengan penakluk lain. Yaitu Ia tidak akan berteriak-teriak ataupun membuang orang-orang yang sudah tidak berguna atau tidak berdaya (ayat 2-3). Kata "hukum" muncul tiga kali (ayat 1, 3, 4), menunjukkan tugas utama Sang Hamba ialah menegakkan hukum. Tugas yang tidak akan mudah, karena Ia akan mendapat banyak tekanan. Namun, tekanan yang dapat mematahkan atau memadamkan orang lain, tidak dapat menggoyahkan-Nya (ayat 4; bdk. Ayat 3).
Tuhan menegaskan bahwa tugas Sang Hamba yang akan mempengaruhi bangsa-bangsa dan memastikan hasil yang akan dicapai (Ayat 5-9). Bagian ini berisikan tiga pernyataan Allah tentang diri-Nya (ayat 5a, 6a, 8a). Pertama, Dia adalah Tuhan pencipta langit dan bumi dan segala yang hidup di dalamnya (ayat 5). Kedua, Tuhan telah memanggil Sang Hamba untuk menjadi perjanjian, terang, dan pembebasan bagi umat-Nya (ayat 6-7). Ketiga, penegasan bahwa nama Tuhan adalah eksklusif! Tidak untuk para berhala yang mati! Buktinya ialah Dia dulu telah bernubuat dan sekarang sudah tergenapi. Dia akan bernubuat, dan akan digenapi pula (ayat 8-9). Dengan demikian kita melihat bahwa Tuhan mau menyatakan tentang tugas yang Ia berikan pada Sang Hamba pasti akan tergenapi karena Tuhan yang mengutusnya merupakan Pencipta semuanya dan berdaulat atas semuanya.
Tuhan akan menegakkan hukum di bumi melalui Hamba-Nya, yaitu Yesus Kristus. Kita perlu tunduk kepada Kristus, atau kita akan mendapatkan hukuman. (MJ-04)


Pertanyaan Refleksi Pribadi:
Sudahkah anda bersikap seperti “hamba Tuhan”? Jawab:

UPAH MENGIKUT YESUS


“Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Matius 19:29)

Banyak orang Kristen berharap dengan mengikut Kristus kehidupannya akan diberkati secara melimpah, terluput dari masalah atau kesulitan. Namun masalah tetap ada, situasi sulit tetap terjadi, bahkan tantangan hidup semakin berat, mereka pun berpikir: apa bedanya dengan orang-orang di luar Tuhan? Malahan secara kasat mata kehidupan orang-orang dunia sepertinya jauh lebih baik. Akhirnya kita selalu mengeluh, menggerutu dan terus mempertanyakan upah mengikut Kristus.
Kata “upah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti balasan dari jasa atau tenaga yang dikeluarkan untuk mengerjakan sesuatu. Kita perlu mengakui bahwa di zaman sekarang ini, pada umumnya bahkan bisa kita katakan semua orang menginginkan upah yang setidaknya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara pribadi ataupun keluarga. Sehingga kita harus menyadari bahwa hal ini merupakan suatu indikasi mengenai kehidupan manusia saat ini semakin dikuasai oleh materi atau sudah masuk dalam ajaran filsafat mengenai materialisme, yaitu ajaran yang mengukur segala sesuatu dengan materi. Kita bisa menemui bahwa orang-orang sekarang ini semakin jeli melihat kesempatan untuk memperoleh upah yang diinginkan dalam setiap pekerjaan.

Dalam pembacaan Alkitab kita saat ini merupakan bagian yang menguraikan mengenai “upah” kehidupan yang kekal yang merupakan harapan dari setiap orang percaya. Yesus mengajar orang banyak pada waktu itu yang terdiri dari kumpulan orang yang mengikut Yesus bahkan juga mereka yang membencinya. Yesus memberi jawaban dari pertanyaan Petrus dengan mengatakan bahwa mereka yang mengikuti-Nya dengan meninggalkan keluarga bahkan harta benda yang mereka miliki, maka mereka akan menerima dan menikmati seratus kali lipat dari apa yang mereka korbankan, bahkan jawaban yang menguatkan janji Tuhan ini adalah kehidupan kekal yang akan dinikmati oleh orang yang mau mengikut Yesus. (WP-04)

Doa: Tuhan Yesus, kami mau terus mengikuti Engkau seumur hidup kami supaya kehidupan kekal dapat kami nikmati nantinya. Amin.

Apakah Qur’an menggantikan Alkitab?

Jawaban: Bukannya menggantikan, Qur’an justru malah mendorong orang Muslim membaca Alkitab.

Banyak Muslim yang tidak pernah membaca Alkitab karena mereka beranggapan bahwa Qur’an telah menggantikan Alkitab. Sebaliknya, Qur’an tidak pernah mengklaim menggantikan Alkitab. Pembatalan otoritas Alkitab justru akan mempengaruhi ayat-ayat Qur’an sendiri (Sura 2:106). 

Qur’an menginstruksikan – bukannya melarang – orang Muslim membaca Alkitab (Sura 5:44, 46; 3:3; 10:94-95). 

Walaupun para sarjana Muslim telah membatalkan puluhan ayat Qur’an, kaum Muslim masih tetap membacanya. Karena itu, semua kaum Muslim patutlah membaca kitab suci yang tidak akan pernah tergantikan. Allah berfirman, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35).

Beberapa orang mengatakan bahwa sebagaimana Injil membatalkan Taurat, maka Qur’an membatalkan Injil. Namun Injil tidak pernah membatalkan Taurat. 

Isa yang sempurna bukan datang untuk menghapuskan hukum Taurat, namun untuk menggenapi Taurat demi untuk mereka yang tidak dapat memeliharanya.

Isa/Yesus mengatakan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:17-18)

Kenyataannya, Yesus justru menunjukkan bahwa hukum-hukum Allah lebih sulit untuk ditaati dibandingkan apa yang dibayangkan manusia. 

Yesus memperdalam arti Taurat ketika berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” … 

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:21-22, 27-28).

Sudahkah Saudara menemukan standar yang sempurna itu? Kitab Injil menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat menaati tuntutan Taurat. Karenanya, semua orang layak masuk neraka (Roma 3:23, 6:23). Syukurlah, Yesus Kristus secara sempurna menaati hukum Tuhan.

Percayalah pada Allah dari “kitab suci yang sebelumnya,” kitab itu tidak pernah dapat dibatalkan. “Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya” (Mazmur 119:160).

Apakah Qur’an dan Muhammad mengakui atau menolak Alkitab? Patutkah orang Muslim membaca Alkitab?

Jawaban: Dalam Qur’an, Muhammad memerintahkan kaum Muslim membaca Alkitab.

Apa yang menjadi pedoman Saudara? Kalau hadis atau imam berbeda pendapat dengan Qur’an, yang mana yang Saudara percaya? Kemungkinan besar, Qur’an akan menjadi otoritas tertinggi Saudara. Sebagai Muslim apakah Qur’an mengijinkan Saudara untuk belajar dari Alkitab?

• Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) (Sura 5:44a)

• Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Sura 5:46)

• Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. (Sura 3:3)

• Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi (Sura 10:95)

Jika Saudara seorang Muslim, Saudara tidak punya alasan untuk tidak membaca Alkitab. Qur’an memerintahkan Saudara, dan bahkan turut memuji Alkitab. Mengapa Saudara tidak memulai membacanya hari ini? 

Mulailah dengan Injil Lukas yang menceritakan tentang kisah Isa. Hanya Isa yang dapat memberi Saudara jaminan mengenai firdaus.

Sebagaimana dikatakan Qur’an, Alkitab dapat memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Saudara. “Maka jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (Sura 10:94).


Apakah orang Kristen telah mengubah Alkitab?

Pertanyaan: Apakah orang Kristen telah mengubah Alkitab?

Jawaban: 
Sebagian Muslim menuduh orang-orang Kristen telah mengubah Alkitab untuk dicocok-cocokan dengan doktrin mereka yang salah. Sekalipun tuduhan ini menjelaskan perbedaan antara Qur’an dan Alkitab, tuduhan ini tidak memiliki bukti yang kuat. Qur’an dan para sarjana sama-sama meneguhkan keaslian Alkitab. 

Qur’an memuji Alkitab

Alkitab tidak mungkin sudah diubah sebelum atau pada jaman Muhammad. karena kalau itu terjadi Qur’an tidak akan memuji Alkitab. “Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (Sura 5:46)

Alkitab tidak dirusak/diubah

Karena Alkitab tidak diubah sebelum atau pada jaman Muhammad, satu-satunya ruang untuk melakukannya hanya bisa dilakukan setelah kematian Muhammad. Namun, bukti-bukti dari para sarjana memperlihatkan bahwa dari abad ke 7 – 21, tidak ada doktrin penting yang berbeda dari teks dalam bahasa Ibrani dan Yunani. 

Selain variasi dalam ejaan dan tata bahasa, Alkitab hari ini secara esensi tidak ada bedanya dengan Alkitab yang dipuji oleh Muhammad (Sura 3:3).

Juga ketika Muhammad dilahirkan, ribuan Alkitab sudah ada dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. Kalau orang Kristen mengubah Alkitab, bagaimana mereka mampu menghancurkan semua Alkitab yang beredar saat itu?

Seseorang yang nekat untuk mengubah Alkitab kemungkinan besar akan mengubah pengajaran-pengajaran yang merugikannya. Kalau orang-orang Kristen benar-benar merubah Alkitab, kemungkinan mereka akan mengubah fakta-fakta mengenai keraguan Tomas, kemunafikan Petrus, dan sanksi bagi mereka yang mengubah Firman Allah.

Yang benar adalah: Firman Allah tetap sama. “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta” (Amsal 30:5-6).

Alkitab adalah kebenaran

Apakah Saudara masih percaya bahwa orang-orang Kristen mengubah Alkitab? Kalau begitu, coba tunjukkan ayat-ayat mana saja yang telah diubah. Kalau tidak, silahkan baca.

Mengapa saya harus percaya pada kebangkitan Kristus?

Pertanyaan: Mengapa saya harus percaya pada kebangkitan Kristus?

Jawaban: 
Adalah fakta bahwa Yesus dihukum mati di depan umum di Yudea pada abad pertama, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, dengan cara di salib, atas permintaan dari Mahkamah Agama Yahudi. 

Kesaksian sejarah non-Kristen dari Flavius Josephus, Cornelius Tacitus, Lucian dari Samosata, Maimonides, dan bahkan dari Mahkamah Agama Yahudi mendukung kesaksian jemaat Kristen mula-mula mengenai aspek sejarah penting dari kematian Yesus Kristus. 

Mengenai kebangkitanNya, ada beberapa bukti yang kuat. Ahli hukum dan negarawan internasional Sir Lionel Luckhoo, yang tercatat dalam Guinness Book of World Records untuk keberhasilannya membela 245 kasus pembunuhan secara berturut-turut, menjadi lambang dari antusiasme dan keyakinan orang Kristen akan kuatnya bukti kebangkitan ketika dia menulis, “Saya memiliki pengalaman lebih dari 42 tahun sebagai pengacara di berbagai penjuru dunia dan masih praktek secara aktif hingga hari ini. Saya beruntung bahwa berkali-kali saya sukses dalam pengadilan dan dengan tegas saya harus katakan: bukti dari kebangkitan Yesus Kristus begitu banyak dan kuat sehingga harus diterima tanpa ada keraguan sama sekali.”

Tidak mengherankan jika masyarakat sekuler menanggapi bukti-bukti itu secara apatis sesuai dengan sikap mereka yang ngotot dengan komitmen terhadap metodologi naturalisme. 

Metodologi naturalisme adalah usaha manusia untuk menjelaskan segala sesuatu berdasarkan alasan alamiah dan hanya bersedia percaya alasan-alasan alamiah itu saja. Jika apa yang dianggap sebagai peristiwa historis tapi bertentangan dengan penjelasan alamiah, misalnya mukjizat kebangkitan, para sarjana sekuler umumnya memperlakukannya dengan skeptisisme yang berlebihan, tanpa memperdulikan bukti sekuat apapun. 

Dalam pandangan kami, sikap ngotot terhadap penyebab-penyebab alamiah, sekalipun tidak didukung oleh bukti-bukti yang memadai, merupakan sikap yang tidak kondusif terhadap penelitian yang tidak berpihak. Kami sepaham dengan Dr. Wehner von Braun, dan masih banyak lagi yang lainnya, yang memandang ketika seseorang memaksakan kecenderungan filosofi populer kepada bukti-bukti yang ada akan menghalangi obyektifitas. 

Dr. Von Braun berkata, “Dipaksa untuk percaya pada hanya satu kesimpulan … adalah pelanggaran terhadap obyektifitas sains itu sendiri.”

Mari kita analisis beberapa bukti yang mendukung kebangkitan Kristus. 

Bukti pertama mengenai kebangkitan Kristus
Mari kita mulai dengan kesaksian yang sungguh-sungguh dari para saksi mata. Para apologis Kristen-mula-mula mengutip kesaksian ratusan orang, beberapa dari mereka bahkan mencatat pengalaman mereka sendiri.

Banyak dari para saksi mata ini, dengan sukarela dan tekad bulat, memilih mengalami penganiayaan yang panjang dan kematian daripada menyangkali kesaksian mereka. Fakta ini membuktikan kesaksian mereka, bahwa tidak mungkin mereka menipu. 

Menurut catatan sejarah, misalnya di Kisah Para Rasul 4:1-17 atau Surat Plini kepada Trajan X, 96, kebanyakan orang Kristen saat itu bisa mengakhiri penderitaan mereka dengan menyangkali iman mereka. Namun mereka justru memilih untuk menjalani penderitaan dan tetap memberitakan kebangkitan Kristus sampai akhir hayat mereka. 

Memang harus diakui, sekalipun mati syahid itu mengagumkan, namun ia tidak bisa menjadi parameter untuk dijadikan sebagai satu kesaksian. Hal itu tidak membuat orang percaya, sebaliknya ia lebih meneguhkan iman pada si orang percaya. 

Yang membuat para martir Kristen-mula-mula ini luar biasa dikarenakan mereka sungguh-sungguh tahu mengenai benar tidaknya yang mereka percaya. Mereka benar-benar melihat Yesus hidup lagi setelah kematianNya. 

Ini yang luar biasa. Kalau semua ini hanya kebohongan, mengapa begitu banyak orang yang tetap mempertahankan kesaksiannya dalam situasi dan kondisi penderitaan yang harus mereka tanggung? 

Mengapa mereka terus berpegang pada dusta yang begitu merugikan dan bersedia menanggung penganiayaan, penjara, siksa dan kematian? 

Tidak diragukan jika para pembajak pesawat pada peristiwa 11 September 2001 percaya pada apa yang mereka katakan, yang dibuktikan dengan kerelaan mereka untuk mati demi kepercayaan mereka. Namun, mereka sesungguhnya tidak tahu, dan tidak bisa benar-benar tahu apakah semua itu benar atau tidak. Mereka beriman pada tradisi yang diwariskan kepada mereka secara turun temurun. 

Sebaliknya, orang Kristen-mula-mula yang menjadi martir adalah orang-orang dari generasi pertama. Mereka melihat sendiri apa-apa yang mereka katakan, atau mereka memang sama sekali tidak melihatnya. 

Tentu saja saksi yang paling menonjol adalah para Rasul. Secara kelompok, mereka mengalami perubahan drastis setelah Kristus menampakkan diriNya setelah dibangkitkan. Begitu Yesus disalib, mereka menyembunyikan diri dalam ketakutan. Setelah kebangkitan, mereka turun ke jalan, dengan berani memberitakan kebangkitan Kristus sekalipun harus mengalami penganiayaan. 

Bagaimana kita menjelaskan perubahan yang begitu mendadak dan drastis? Jelas bukan karena keuntungan finansial. Para Rasul mengorbankan segalanya, termasuk hidup mereka, demi memberitakan kebangkitan Kristus. 

Bukti kedua mengenai kebangkitan Kristus.
Bukti kedua berhubungan dengan pertobatan dari sekelompok orang yang skeptis. Yang paling menonjol adalah Paulus dan Yakobus. 

Menurut pengakuannya sendiri, Paulus adalah seorang penganiaya gereja-mula-mula yang kejam. Setelah apa yang digambarkannya sebagai pertemuan dengan Kristus yang bangkit, Paulus mengalami perubahan yang mendadak dan drastis; dari penganiaya yang kejam menjadi salah seorang pembela gereja yang paling tangguh dan gigih.

Sama seperti orang-orang Kristen lainnya, Paulus mengalami penganiayaan, hidup prihatin, siksa, penjara dan dieksekusi dengan cara dipenggal, karena komitmennya yang tidak goyah terhadap kebangkitan Kristus. 

Yakobus juga seorang yang skeptis, walau tidak melakukan kekerasan seperti Paulus. Pertemuannya dengan Kristus yang bangkit mengubahnya menjadi orang percaya yang standarnya sukar untuk ditiru siapapun. Ia bahkan menjadi pemimpin gereja di Yerusalem. 

Hingga hari ini, kita masih memiliki apa yang secara umum diterima oleh para sarjana sebagai salah satu dari surat-suratnya kepada gereja mula-mula. Sama seperti Paulus, Yakobus bersedia menderita dan mati demi kesaksiannya, satu fakta yang membuktikan kesungguhan imannya. Kisah Para Rasul dan Antiquities of Jews XX, ix, 1 yang ditulis oleh Josephus, menjelaskannya lebih rinci.

Bukti ketiga dan keempat mengenai kebangkitan Kristus.

Bukti ketiga dan keempat berhubungan dengan kesaksian dari para musuh mengenai kubur kosong dan fakta mengenai kebangkitan Kristus yang berakar di Yerusalem. 

Yesus dihukum mati di depan umum dan dikuburkan di Yerusalem. Tidak mungkin iman mengenai kebangkitannya dapat berakar di Yerusalem, sementara tubuhnya masih tergeletak di dalam kubur. Jenazahnya bisa digali kembali oleh Sanhedrin, diperlihatkan kepada umum, dan dengan demikian membuktikan kepalsuan kebangkitannya. 

Sebaliknya, Sanhedrin menuduh para murid telah mencuri tubuh Yesus, untuk menjelaskan hilangnya tubuh Yesus (dan kubur kosong). Bagaimana kita dapat menjelaskan fakta mengenai kubur kosong? 

Berikut ini adalah tiga penjelasan yang paling umum.
Pertama, para murid mencuri tubuh Yesus. Kalau memang demikian, mereka akan tahu bahwa kebangkitan itu hanya merupakan cerita bohong. 

Karena itu, mereka tidak mungkin bersedia menderita dan mati untuk itu. Semua saksi mata saat itu akan tahu bahwa mereka sudah berdusta. Jika begitu banyak orang yang bersekongkol, salah seorang dari mereka pasti akan mengaku. Kalau bukan untuk mengakhiri penderitaannya, mungkin untuk mengakhiri penderitaan teman-teman dan keluarganya.

Cukup kesaksian satu orang untuk memastikan ini hanyalah kebohongan. 

Generasi Kristen-mula-mula dianiaya dengan sangat kejam, khususnya setelah kebakaran di Roma pada tahun 64 AD. Kebakaran ini dipercaya para ahli sejarah diperintahkan oleh Kaisar Nero sendiri untuk memperbesar istananya, tapi kemudian dituduhkan pada orang-orang Kristen di Roma.

Kesimpulan ini dituliskan sejarahwan Roma, Cornelius Tacitus, dalam Annals of Imperial Rome, yang diterbitkan satu generasi setelah kebakaran itu. “Nero menyalahkan dan dengan amat kejam menganiaya lapisan masyarakat yang paling dibenci, yaitu mereka yang disebut orang-orang Kristen oleh masyarakat umum. 

Pada masa pemerintahan Tiberius; Kristus, sumber dari panggilan itu, menderita hukuman yang amat keji dalam tangan salah seorang penguasa kita, yaitu Pontius Pilatus, dan takhyul yang paling jahat yang untuk sementara terkendali kembali membara, bukan saja di Yudea, sumber kejahatan yang pertama, tapi juga di Roma, di mana segala hal yang najis dan memalukan dari seluruh dunia berdatangan dan menjadi populer. 

Seturut dengan itu, mula-mula mereka yang mengaku bersalah ditangkap, dan berdasarkan informasi dari mereka, khalayak ramaipun didakwa, bukan karena membakar kota, namun karena kejahatan melawan kemanusiaan. 

Sesudah matipun, mereka masih dihina dengan kejam. Mereka dipakaikan kulit binatang liar dan kemudian dicabik-cabik oleh anjing hingga mati, atau dipaku di salib, atau dibakar dengan api dan dijadikan penerangan malam ketika kegelapan tiba.” (Annals, XV, 44).

Nero menggunakan orang-orang Kristen yang dia bakar hidup-hidup sebagai penerangan untuk pesta-pesta taman yang diselenggarakannya. Menghadapi penderitaan dan kesakitan yang luar biasa seperti ini, pasti akan ada yang mengakui kebenaran. 

Namun demikian, faktanya, kita tidak mendapatkan catatan apapun mengenai orang Kristen-mula-mula yang menyangkali iman mereka demi mengakhiri penderitaan mereka. 

Sebaliknya, kita mendapatkan berbagai kisah mengenai penampakan sesudah kebangkitan dan ratusan saksi mata yang bersedia menderita dan mati karenanya. 

Jika para murid tidak mencuri tubuh Kristus, bagaimana kita menjelaskan kubur kosong? Ada yang mengatakan bahwa Kristus pura-pura mati dan belakangan melarikan diri dari kuburan. 

Ini sama sekali tidak masuk akal. Menurut para saksi mata, Kristus saat itu dipukuli, disiksa, dicambuk dan ditikam. Dia menderita luka dalam, kehilangan darah dalam jumlah besar, tidak bisa bernafas dan ditikam dengan tombak. 

Tidak ada dasar ilmiah untuk percaya Yesus Kristus (atau siapapun) dapat lolos dari penderitaan seperti itu; pura-pura mati, berbaring dalam kubur selama tiga hari tiga malam tanpa mendapat perawatan medis, makanan atau air. Kemudian bisa menyingkirkan batu besar yang menutupi kuburnya, lari tanpa meninggalkan bekas, tanpa meninggalkan jejak darah, meyakinkan ratusan saksi mata bahwa dia bangkit dari kematian dan sehat-sehat saja, dan kemudian menghilang tanpa bekas. 

Pemikiran semacam ini sangat tidak masuk akal.

Bukti kelima mengenai kebangkitan Kristus
Akhirnya, bukti kelima berhubungan dengan keanehan dari kesaksian para saksi mata. Dalam semua kisah utama mengenai kebangkitan, para perempuan disebut sebagai saksi yang pertama dan utama. 

Hal ini menjadi fakta yang ganjil, karena dalam budaya Roma dan Yahudi kuno perempuan sangat dipandang remeh. Kesaksian mereka dianggap tidak penting dan boleh diabaikan.

Mengingat hal ini, sangat tidak mungkin bahwa pencipta cerita palsu dalam abad pertama Yahudi memilih perempuan sebagai saksi utama. Dari sekian banyak murid-murid pria yang mengaku bertemu dengan Yesus yang bangkit, kalau saja semua itu adalah kebohongan dan kisah kebangkitan adalah penipuan, mengapa justru saksi yang paling diremehkan dan tidak dipercaya yang dipilih?

Dr. William Lane Craig menjelaskan, “Ketika Anda memahami peranan perempuan dalam masyarakat Yahudi di abad pertama, luar biasa sekali bahwa kisah mengenai kubur kosong menampilkan perempuan sebagai yang pertama-tama menemukan kubur kosong. Perempuan menempati tingkatan yang sangat rendah dalam strata sosial di abad pertama Palestina. 

Ada pepatah kuno yang mengatakan “Lebih baik kata-kata Taurat dibakar daripada diberikan kepada perempuan,” dan “Diberkatilah dia yang mendapatkan anak laki-laki, namun celakalah dia yang mendapatkan anak perempuan.” 

Kesaksian perempuan dianggap tidak ada gunanya sehingga mereka tidak diizinkan untuk bertindak sebagai saksi dalam sistem pengadilan Yahudi. Dalam konteks ini, sangatlah luar biasa jika para saksi utama dari kubur kosong adalah perempuan. 

...Semua kisah legenda pada jaman belakangan pasti akan menggambarkan murid-murid laki-laki yang menemukan kubur itu, misalnya Petrus atau Yohanes. Fakta bahwa perempuan yang menjadi saksi mula-mula dari kubur kosong dapat dijelaskan dengan penuh kepastian bahwa kenyataannya, suka atau tidak suka, merekalah yang menemukan kubur kosong!

Hal ini memperlihatkan bahwa para penulis Injil dengan setia mencatat apa yang terjadi, sekalipun itu memalukan. Hal ini membuktikan sifat historis dari tradisi ini, dan bukan sebagai legenda. (Dr. William Lane Craig, dikutip oleh Lee Strobel, The Case for Christ, Grand Rapids: Zondervan, 1998, hal. 293.)

Ringkasan
Bukti-bukti ini: kesungguhan yang nyata dari para saksi mata, mengenai para Rasul, perubahan yang drastis dan tak terduga, pertobatan dan kesungguhan dari para antagonis dan orang-orang skeptis yang kemudian malah mati syahid, fakta mengenai kubur kosong, kesaksian dari musuh kekristenan mengenai kubur kosong, fakta bahwa semua peristiwa ini terjadi di Yerusalem di mana kepercayaan mengenai kebangkitan muncul dan berkembang, kesaksian dari perempuan terkait posisi sosial mereka dalam konteks sejarah; semua ini secara kuat mendukung sifat sejarah dari kebangkitan. 

Kami mendorong para pembaca untuk mempertimbangkan bukti-bukti ini. Apa yang dikatakan bukti-bukti ini kepada Saudara? 

Setelah merenungkannya, kami dengan penuh ketekadan mendukung pernyataan dari Sir Lionel: “Bukti dari kebangkitan Yesus Kristus begitu banyak dan kuat sehingga harus diterima tanpa ada keraguan sama sekali.”

Apakah Yesus itu Anak Allah? Bagaimana mungkin Allah yang Esa dapat memiliki Anak?

Pertanyaan: Apakah Yesus itu Anak Allah? Bagaimana mungkin Allah yang Esa dapat memiliki Anak?

Jawaban: 
Sebagai Allah, Yesus disebut Anak Allah. Yesus dan BapaNya adalah satu dalam keilahian namun Pribadi yang berbeda dalam Trinitas. 

Satu Allah, Satu Tuhan

Sebagai kaum monotheistik, Muslim, Kristen dan Yahudi sama-sama percaya bahwa hanya ada satu Allah yang sejati. Yesus sendiri memegang monotheisme. 

Ketika ditanya apa yang merupakan perintah terbesar, Yesus menjawab, “ … Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Markus 12:29-30). 

Rasul Paulus, juga mengajarkan monotheisme: “Tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa … yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Korintus 8:4-6)

Sebagai pengikut-pengikut Yesus, orang-orang Kristen mula-mula lebih cenderung menggunakan istilah “Allah” untuk Dia yang disebut oleh Yesus sebagai “BapaKu dan Bapamu (Yohanes 20:17). Sementara “Tuhan” (bahasa Yunaninya: Kurios) dipakai untuk merujuk Yesus. Gelar ini mengindikasikan bahwa Yesus adalah Tuan dan sekaligus Tuhan. 

Anak Allah

Orang-orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. 

Alkitab (yang dipuji oleh Qur’an dalam Sura 4:136) tidak mengajarkan adanya hubungan orangtua-anak antara Allah dan Maria. Pemahaman itu akan sama salahnya bagi orang Kristen dan Islam. 

Sebaliknya, konsep Kristus sebagai Anak Allah menunjukkan relasi antara Bapa dan Anak, dan sifat keilahiaan yang dimiliki keduaNya. 

Pada saat kelahiran Isa, malaikat memberitahukan kepada Maria, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 

Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 

Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:26-35)

Sebelumnya, Allah telah berbicara kepada manusia melalui nabi-nabiNya, namun kemudian Dia mengirimkan Seseorang dari DiriNya sendiri. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. 

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,” (Ibrani 1:1-3)

Yesus, yang datang untuk “membersihkan dosa” memiliki essensi yang persis sama dengan Allah, namun Pribadi yang berbeda sebagai Anak Allah. MelaluiNya, Allah menciptakan alam semesta (Yohanes 1). 

Memiliki natur keilahian yang sama, Yesus adalah satu dengan BapaNya sebagai Allah. 

Doktrin mengenai Yesus sebagai anak Allah tidaklah mudah untuk dimengerti, namun jelas-jelas diajarkan oleh Firman Allah. Siapakah kita yang berani membatasi Allah hanya menurut pengertian kita sendiri? Allah telah mengungkapkan diriNya sebagai Allah yang menyatakan diri dalam tiga Pribadi, Bapa, Anak dan Roh. 

Kesaksian orang-orang bahwa Yesus itu Allah.

Apakah Yesus benar-benar Anak Allah? Ketika orang-orang menyaksikan mujizat-mujizat, pengajaran, kematian dan kebangkitanNya, mereka percaya dan bersaksi bahwa Dia adalah Allah, “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.” (1 Yohanes 4:14-15)

Pengikut-pengikut Yesus memberi kesaksian setelah dia menenangkan badai, “Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."” (Matius 14:32-33). 

Petrus, murid Yesus bersaksi, “Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." 

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 16:13-17)

Seorang wanita bernama Marta juga bersaksi, “Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 

Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."” (Yohanes 11:25-27).

Perwira militer dan para tentara yang mengawal Yesus saat Dia mati di kayu salib bersaksi, “ Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."” (Matius 27:54). Setelah Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, Thomas juga ikut bersaksi, “Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" 

Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 

Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 

Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." 

Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:24-31).

Kesaksian Yesus sendiri

Ketika beberapa orang Yahudi berencana untuk membunuhNya, Yesus juga memberi kesaksian tentang diriNya sendiri. “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. 

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. 

Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. 

Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. 

Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:18-24)

Saat diadili, Yesus menegaskan keilahiannya. “Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?" 

Jawab Yesus: "Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit."” (Markus 14:61-62)

Kesaksian dari Allah Bapa.

Pada saat Yesus dibaptis, Allah juga bersaksi, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17, lihat pula Lukas 9:35). 

Kesaksian Allah adalah kebenaran: “Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 

Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 

Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1 Yohanes 5:9-13)

Agama vs relasi

Sekalipun umat manusia terdiri dari berbagai ras dan bangsa, berbagai bahasa dan agama, kita semua memiliki kebutuhan yang sama. Kebutuhan manusia yang terbesar adalah: mengenal sang Pencipta kita secara pribadi. 

Jika pengetahuan mengenai Allah bergantung pada penyelidikan dan eksperimen manusia, maka sangat penting bagi kita untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan, “Kalau Allah itu Esa, bagaimana Yesus bisa menjadi AnakNya?” 

Namun, karena pengenalan akan Allah itu bergantung pada pernyataan diriNya, maka percaya pada pernyataanNya sebagaimana yang ditemukan dalam FirmanNya, Alkitab, lebih penting ketimbang menemukan jawaban atas pertanyaan kita yang paling sulit sekalipun. 

Dalam Alkitab, percaya kepada pernyataan diri Allah sebagai kebenaran dan menaati kebenaran itu disebut iman. 

Kita akan meninggal dengan banyak pertanyaan sulit yang tidak terjawab. Namun, kita tidak boleh mati tanpa merespon secara pribadi janji keselamatan Allah melalui AnakNya. 

Sebelum Yesus datang ke dalam dunia ini dalam wujud manusia, Dia bersama-sama dengan Allah Bapa. Allah mengutus AnakNya ke dunia, lahir dari seorang anak perawan. Sebagai Allah yang lahir menjadi manusia, Yesus hidup secara sempurna. 

Dia tidak pantas menanggung hukuman dosa: terpisah dari Allah melalui kematian. Namun, dengan mati di atas kayu salib dan bangkit dari antara orang mati, Dia membayar hukuman dosa dan menghancurkan dominasi dosa bagi mereka yang percaya kepadaNya. 

Allah memanggil orang-orang berdosa untuk bertobat, supaya mereka beriman kepada Yesus Kristus. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yohanes 3:16-18)

Percayalah kepada Anak Allah hari ini. Percayalah kepada Yesus untuk menyelamatkan Saudara dari hukuman dan kuasa dosa, supaya Saudara bisa hidup kekal di surga.

Apakah Saudara membuat keputusan untuk menerima Kristus karena apa yang Saudara baca di sini? Jika demikian, klik tombol “Saya telah menerima Kristus pada hari ini” di bawah ini.